RSS

Farmasetika : Infus

Oke aku akan memulai belajar buat Sidang. satu, tentang Farmasetika dulu. Sekarang sediaan steril.

Apa itu infus?

Infus adalah sediaan steril berupa larutan atau emulsi, bebas pirogen, sedapat mungkin dibuat isotonis dengan darah (kalo ga isotonis gpp), disuntik langsung ke dalam vena dengan volume yang relatif banyak. Kalo bentuknya emulsi, fasa luarnya harus air  diameter fasa dalam ga boleh > 5 mikro m. Kecuali dinyatakan lain, infus intravena tidak boleh mengandung bakterisida dan zat dapar.  (FI III hal 12). Harus jernih dan bebas partikulat.

Apa itu injeksi? Bedanya apa sama infus?

PR. bentar saya baca dulu :D , hehe

 
Leave a comment

Posted by on April 14, 2011 in Farmasetika

 

Tags: ,

Teknologi Bahan Alam

Kemarin baru saja selesai UTS, dan aku masih demam (ga ada hubungannya sih). Berikut ini adalah soal UTS yang berhasil kuingat-ingat : ada 20 soal pilihan ganda dan 6 esay

1. a) Sebutkan 10 senyawa-senyawa bahan alam beserta sumber tanamannya sebagai bahan obat yang berada dalam Farmakope Indonesia. b) Efedrin adalah senyawa dari bahan alam yang telah teruji klinis, tapi mengapa tidak dimasukkan dalam fitofarmaka?

2. a) Bagaimana cara membuat etanol 90% dari etanol 95%? hint: etanol gampang menguap, perlu jumlah lebih. b) bagaimana metode pemekatan ekstrak? c) pelarut apa saja yang diperbolehkan untuk obat dalam Farmakope Indonesia? Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by on March 20, 2011 in Biologi Farmasi

 

Tags: , , ,

Energy for Movement

Catatan Fisiologi Olahraga

BAB 1 : Energi Untuk Pergerakan

Anatomi : ilmu yang mempelajari tentang struktur atau morfologi organisme

Fisiologi : ilmu yang mempelajari tentang fungsi tubuh, dan bagaimana sistem organ, jaringan, dan sel bekerja dan berintegrasi untuk mengatur kondisi/lingkungan internal

Fisiologi Olahraga : Aplikasi konsep-konsep dari fisiologi latihan (exerccise physiology) untuk melatih dan meningkatkan performa olahraga atlet. Selain itu juga aplikasi informasi tersebut untuk desain dan evaluasi program pelatihan untuk mengurangi resiko overtraining.

Basic Energy System

Energi adalah kapasitas untuk melakukan kerja

Betuk-bentuk energi : kimia, mekanik, listrik, elektromagnetik, termal, nuklir

Energi dalam sistem biologi diukur sebagai kilokalori(kcal) : 1 kcal setara dengan jumlah energi panas yang dibutuhkan untuk mengaikkan suhu 1 kg air 1⁰C pada suhu 15⁰C.

Sumber Energi Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on March 9, 2011 in Fisiologi Olahraga

 

Tags: , ,

Fungal Biotechnology for Pharmaceuticals

(Bioteknologi Jamur untuk Bahan Obat-obatan)

Jamur telah digunakan untuk proses produksi biopharmaceutical seperti enzim, vitamin, polisakarida, polyhydric alcohol, pigmen, lipid, dan lain-lain. Selain itu metabolit sekunder juga sangat penting untuk kesehatan manusia. Selain pemanfaatan jamur dari segi fermentasi, jamur ternyata sangat bermanfaat dalam proses biotransformasi. Hal tersebut menyebabkan peran jamur dalam industri obat-obatan semakin penting. Teknologi DNA rekombinan yang menjadikan jamur sebagai inang serta berbagai manipulasi molekular di dalamnya menyebabkan bioteknologi jamur berperan dalam penemuan obat baru dan peningkatan produksi pharmaceuticals.

Fungi as Cell Factory. Perkembangan teknik bioteknologi molekuler menyediakan cara baru untuk memanfaatkan jamur sebagai ‘sel pabrik’ untuk menghasilkan protein-protein pharmaceuticals dan juga senyawa metabolit sekunder. Mengapa harus jamur, bukan bakteri saja? Pada beberapa kasus memang pemilihan jamur sebagai inang lebih disukai daripada bakteri karena bakteri tidak mempunyai organel tertentu dalam selnya untuk memproduksi protein yang lebih kompleks.

Pharmaceutical Protein. Beberapa bahan farmasi telah dihasilkan melalui proses rekombinasi gen dengan inang jamur. Saccharomyces cerevisiae misalnya. Jamur ini dikenal sebagai mikroba yang aman atau sering disebut GRAS (Generally Recognized As Safe). Jamur ini dapat tumbuh cepat dan menghasilkan sel yang banyak, dapat mensekresikan pretein heterolog ke dalam medium cair, dan pengetahuan genetik dari spesies ini jauh lebih banyak dipelajari dibandingkan spesies lain. Gen mamalia yang telah diklon dan diekspresikan dalam mikroba ini misalnya interferon, epidermal growth factor, dan hemoglobin. Hasil yang paling penting secara komersial dari rekombinasi gen S. cerevisiae adalah pengkodean antgen permukaan dari virus hepatitis B yang menghasilkan vaksin hepatitis B yang aman. Namun ada kekurangan dari inang ini yang menyebabkan ia kurang dipertimbangkan sebagai inang untuk produksi protein skala besar yaitu adanya hiperglikosilasi, residu α-1,3-terikat manosa yang menyebabkan respon antigenik terhadap pasien, serta tidak adanya promoter yang kuat.

Fungal Secondary Metabolites. Produk metabolit sekunder yang dihasilkan oleh jamur isalnya : Antibiotik,contohnya penicillin G alami, penicillin V, dan beberapa penicillin semisintetik dan cephalosporin. Immunosuppresive agents (immunosupresan), misalnya beberapa anti-jamur seperti cycloporin A digunakan sebagai immunosupresan yang sangat berperan penting dalam transplantasi organ seperti jantung, hati, dan ginjal. Hypocholesterolemic Agents (Anti-kolesterol), misalnya lovastatin, pravastatin dan lain-lain. Lovastatin telah disahkan sebagai antikolesterol, salah satu lovastatin yaitu monacolin-K yang dihasilkan oleh Monascus sp. Antitumor agents, seperti antitumor Taxol yang biasanya disintesis dengan inang tumbuhan namun ternyata dapat juga disintesis dengan inang jamur Taxomyces andreanae. Senyawa ini telah disahkan sebagai antikanker untuk kanker payudara dan kanker rahim. Beberapa metabolit sekunder yang lain yaitu mycotoxins, pigments,dan Polyunsaturated Fatty Acids.

Referensi :

Jose L. Adrio, A. L. (2003). Fungal Biotechnology. Int Microbiol Springer-Verlag , 191-199.

 
Leave a comment

Posted by on February 20, 2009 in pharmaceutical biotechnology

 

Tags: , , , ,

RHEOLOGI

Rheologi berasal dari bahasa Yunani yaitu rheo dan logos. Rheo berarti mengalir, dan logos berarti ilmu. Sehingga rheologi adalah ilmu yang mempelajari tentang aliran zat cair dan deformasi zat padat. Rheologi erat kaitannya dengan viskositas. Viskositas merupakan suatu pernyataan tahanan dari suatu cairan untuk mengalir; semakin tinggi viskositas, semakin besar tahanannya untuk mengalir. Viskositas dinyatakan dalam simbol η.

Dalam bidang farmasi, prinsip-prinsip rheologi diaplikasikan dalam pembuatan krim, suspensi, emulsi, losion, pasta, penyalut tablet, dan lain-lain. Selain itu, prinsip rheologi digunakan juga untuk karakterisasi produk sediaan farmasi (dosage form)sebagai penjaminan kualitas yang sama untuk setiap batch. Rheologi juga meliputi pencampuran aliran dari bahan, penuangan, pengeluaran dari tube, atau pelewatan dari jarum suntik. Rheologi dari suatu zat tertentu dapat mempengaruhi penerimaan obat bagi pasien, stabilitas fisika obat, bahkan ketersediaan hayati dalam tubuh (bioavailability). Sehingga viskositas telah terbukti dapat mempengaruhi laju absorbsi obat dalam tubuh.

Penggolongan bahan menurut tipe aliran dan deformasi ada 2 yaitu Read the rest of this entry »

 
14 Comments

Posted by on November 24, 2008 in Physical Pharmacy

 

Tags: , , , , , , , , ,

Sistem Komplemen

Sistem komplemen merupakan mekanisme sistem imun yang ditemukan oleh Jules Bordet, yaitu : komponen yang plasma yang meningkatkan opsonisasi dan pembunuhan bakteri oleh antibodi. Komponen ini melengkapi aktivitas antibodi sebagai antibakteri, sebagi efektor dalam respon anibodi, sistem ini juga dapat diaktivasi lebih awal pada saat infeksi dalam keadaa belum ada antibodi.

Karakteristika Sistem Komplemen :

· Komplemen adalah nama yang diberikan terhadap suatu seri protein(plasma) yang terdiri dari 21 protein

· Mekanisme kerja sistem ini seperti proses pembekuan darah yang membentuk suatu sistem enzim yang terstimulasi dalam plasma yang kebanyakannya adalah proteinase-proteinase.

· Ciri spesifik sistem ini : menghasilkan suatu respon yang cepat dan bertingkat terhadap suatu stimulus yang dapat berupa kompleks imun

· Protein plasma yang diberi simbol C diikuti dengan angka, menunjukkan nomor penemuan komplemen tersebut, bukan suatu nomor urutan reaksi

· Protein komplemen utama yaitu : C1 (q,r,s), C2, C3, C4 ,…dst hingga C9, faktor B, faktor D, faktor H, properdin,dll.

· Pada setiap tahap aktivasi selalu dihasilkan suatu aktivitas enzim baru yang juga komponen komplemen

· Produk reaksi pertama berlaku sebagai katalis enzimatiik yang mengaktifkan komponen-komponen selanjutnya, demikian seterusnya hingga dihasilkan suatu respon bertingkat yang menyerupai cascade. Kerja ini menyerupai “air terjun” yang telus berlangsung tanpa bisa dihentikan di tengah-tengah reaksi. Fragmen enzim diberi nama a dan b misalnya C2a dan C2b.

· Pusat katalitik sistem ini berada pada C3

· Akhir dari aktivitas komplemen adalah : terbentuknya suatu pori fungsional pada membran sel di mana komplemen tersebut melekat, kemudian terjadi perubahan konformasi fosfolipid sel yang menyebabkan lisis dan berakhir dengan kematian sel. Hal ini disebut MAC (membrane attack complex).

Sistem Komplemen terdiri dari tiga jalur yaitu :

* Jalur Klasik. Jalur ini diawali dengan stimulasi dari kompleks antigen-antibodi yang kemudian mengaktivasi C1q, C1r, C1s, ketiga komponen ini menghasilkan komponen enzimatik yang menstimulasi C4, C4 menghasilkan komponen enzimatik yang menstimulasiC2, komponen C2 ini kemudian menghasilkan komponen enzimatik dan menstimulasi C3 Convertase (pusat katalitik sistem komplemen).

* Jalur MB-Lecitin. Jalur ini diawali oleh stimulasi dari kompleks manosa binding protein pada permukaan patogen yang kemudian menstimulasi MBL, MASP-1, MASP-2. Ketiga komponen ini kemudian mnghasilkan komponen enzimatik yang menstimulasi C4, (seperti halnya pada jalur klasik) C4, C4 menghasilkan komponen enzimatik yang menstimulasiC2, komponen C2 ini kemudian menghasilkan komponen enzimatik dan menstimulasi C3 convertase (pusat katalitik sistem komplemen).

* Jalur Alternatif. Jalur ini diawali oleh stimulasi dari permukaan patogen yang mengandung LPS (Lipopolisakarida) yang kemudian langsung menstimulasi C3, C3 menghasilkan komponen enzimatik yang menstimulasi faktor B, faktor B menghasilkan komponen enzimatik yang menstimulasi fakator D, faktor D kemudian menghasilkan komponen enzimatik yang akhirnya mensimulasi C3 convertase.

Setelah Ketiga jalur tersebut mengaktivasi C3 Convertase, C3 convertase ini kemudian menghasilkan C3a, C5a dan C3b. C3a, C5a kemudian menstimulasi peptida mediator untuk inflamasi dan menstimulasi rekrutmen sel fagositik. C3b kemudian berikatan dengan reseptor komplemen pada sel fagositik dan kemudian menstimulasi opsonisasi dan penghilangan kompleks imun. Selain itu, C3b juga menstimulasi komponen terminal komplemen yang kemudian terjadi reaksi cascade : menstimulasi C5b, C6,C7,C8,C9 dan akhirnya membentuk Membran attack complex dan menyebabkan lisis pada patogen.

Persamaan atara ketiga jalur tersebut adalah :

Ketiganya sama-sama akan mengaktivasi pusat katalitik sistem komplemen yaitu C3; Ketiganya pada akhirnya akan menginduksi C9; dan ketiganya sama-sama membentuk membran attack complex.

Perbedaan atara ketiga jalur tersebut adalah :

vStimulus yang menginduksi masing-masing jalur berbeda-beda. Jalur Lecitin distimulasi oleh kompleks antigen antibodi, Jalur MB-Lecitin distimulasi oleh kompleks manosa-binding Lecitin, dan Jalur Alternatif distimulasi LPS (lipopolisakarida) dari permukaan patogen

vKomponen yang distimulasi oleh stimulus masing-masing jalur berbeda. Jalur Lecitin selanjutnya mengaktivasi C1q,C1r,C1s, C4 dan C2, jalur MB Lecitin selanjutnya mengaktivasi MBL, MASP-1, MASP-2, C4 dan C2, dan jalur alternatif mengaktivasi C3, B,dan D.

original lectrure note by fakhria Itmainati. Immunology class by by Mrs. Maria Immaculata Iwo. School of Pharmacy ITB

 
Leave a comment

Posted by on November 23, 2008 in Immunologi

 

Tags: ,

Sel- Sel Imun

Contoh pemanfaatan sistem imun saat ini :

· Berkembangnya trend untuk memanfaatkan sistem imun untuk mengobati berbagai penyakit terutama kanker.

· Diagnosa suatu penyakit dengan peran sistem imun: dengan menentukan titer antibodi, bisa diketahui penyebab infeksi tertentu dan infeksi tersebut berada dalam fase apa. Hal tersebut sangat berkaitan erat dengan kinetika respon antibodi.

· Terapi untuk hiposensitivitasi atau alergi tipe I dengan penyuntikan antigen tertentu secara sedikit-sedikit (desensitisasi).

Sel-Sel dalam sistem imun :

· Neutrofil à sel fagositosis, menstimulasi inflamasi

· Eosinofil à mengeliminasi parasit cacing

· Makrofagà sel utama fagositosis. Terdiri dari 2 macam : makrofag bebas dan makrofag fiksasi (tinggal di organ). Sel makrofag sebagai sel APC (Antigen Presenting Cell) yang mempunyai molekul MHC. MHC kelas I aken mengaktivasi sel Tc, Kelas II mengaktivasi sel Th, MHC kelas III menstimulasi sistem komplemen.

· Sel lain :

o Sel dendritik à menyajikan antigen yang terikat protein MHC kelas II

o Sel Langerhans à menyajikan antigen yang terikat protein MHC kelas II

Organ –Organ dalam Sistem Imun (Organ Limfoid) :

Berdasarkan fungsinya :

1. Organ Limfoid Primer : organ yang terlibat dalam sintesis/ produksi sel imun, yaitu kelenjar timus dan susmsum tulang.

2. Organ Limfoid Sekunder : organ yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya proses-proses reaksi imun. Misalnya : nodus limfe, limpa, the loose clusters of follicles, peyer patches, MALT (Mucosa Assosiated Lymphoid Tissue), tonsil.

RES (Reticuloendothelial System): bagian sistem imun yang terdiri dari sel-sel fagosit yang terdapat pada reticular connective tissue terutama adalah monosit dan makrofag.

Human Lymphoid Sistem :

Terdiri dari : Pembuluh limfatik, Organ limfoid, sel dan Jaringan imun, dan limfe (cairan sistem limfoid)

Mekanisme Kerja Sel Imun :

· NK cell (Natural Killer Cell).Bekerja secara non-spesifik (tanpa pengenaan lebih lanjut), tapi buka sel fagositik. Bekerja dengan cara kontak langsung dengan sel terinfeksi. NK cell disebut sebagai “immune surveylence” (seperti polisi dalam tubuh). Ketika NK cell menempel pada sel terinfeksi, maka golgi dari NK cell akan mensekresi protein killer (perforin). Perforin ini akan membentuk suatu ‘jembatan’ antara NK cell dengan sel terinfeksi, melalui ‘jembatan’ ini terjadi pengeluaran elektrolit berlebih dari sel terinfeksi yang menyebabkan litik osmotik. Peristiwa penyerangan dengan ‘jembatan’ ini disebut membrane attack complex.

· Sel B.Secara umum berfungsi sebagai APC. Sel B akan menerima antigen kemudian melalui MHC kelas II, antigen ini disajikan ke permukaan sel untuk mengaktivasi sel T helper. Sel T helper akan mensekresikan sitokin yang dapat menstimulasi sel B berproliferasi menjadi sel memori, selain itu juga mengaktifkan sel B untuk menjadi sel plasma penghasil antibodi.

· Sel T. Setelah sel B berikatan dengan sel T helper, sel T helper tidak bisa langsung teraktivasi tanpa adanya stimulasi dari Co-stimulatory sitokin. Di antara yang termasuk sitokin adalah : IL (Interleukin I,II,..dst); interferon α,β,γ; Tumor Necrosis Factor; Prostaglandin, dll.

· Non Specific Killer Cells. Yaitu : NK cell dan LAK cell; ADCC (K) cell; Activated macrophage; Eosinophils (diaktivasi oleh IgE karena IgE mentriger/memicu eosinofil untuk mengeliminasi cacing).

 
6 Comments

Posted by on November 22, 2008 in Immunologi

 

Tags: ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.