RSS

Fungal Biotechnology for Pharmaceuticals

20 Feb

(Bioteknologi Jamur untuk Bahan Obat-obatan)

Jamur telah digunakan untuk proses produksi biopharmaceutical seperti enzim, vitamin, polisakarida, polyhydric alcohol, pigmen, lipid, dan lain-lain. Selain itu metabolit sekunder juga sangat penting untuk kesehatan manusia. Selain pemanfaatan jamur dari segi fermentasi, jamur ternyata sangat bermanfaat dalam proses biotransformasi. Hal tersebut menyebabkan peran jamur dalam industri obat-obatan semakin penting. Teknologi DNA rekombinan yang menjadikan jamur sebagai inang serta berbagai manipulasi molekular di dalamnya menyebabkan bioteknologi jamur berperan dalam penemuan obat baru dan peningkatan produksi pharmaceuticals.

Fungi as Cell Factory. Perkembangan teknik bioteknologi molekuler menyediakan cara baru untuk memanfaatkan jamur sebagai ‘sel pabrik’ untuk menghasilkan protein-protein pharmaceuticals dan juga senyawa metabolit sekunder. Mengapa harus jamur, bukan bakteri saja? Pada beberapa kasus memang pemilihan jamur sebagai inang lebih disukai daripada bakteri karena bakteri tidak mempunyai organel tertentu dalam selnya untuk memproduksi protein yang lebih kompleks.

Pharmaceutical Protein. Beberapa bahan farmasi telah dihasilkan melalui proses rekombinasi gen dengan inang jamur. Saccharomyces cerevisiae misalnya. Jamur ini dikenal sebagai mikroba yang aman atau sering disebut GRAS (Generally Recognized As Safe). Jamur ini dapat tumbuh cepat dan menghasilkan sel yang banyak, dapat mensekresikan pretein heterolog ke dalam medium cair, dan pengetahuan genetik dari spesies ini jauh lebih banyak dipelajari dibandingkan spesies lain. Gen mamalia yang telah diklon dan diekspresikan dalam mikroba ini misalnya interferon, epidermal growth factor, dan hemoglobin. Hasil yang paling penting secara komersial dari rekombinasi gen S. cerevisiae adalah pengkodean antgen permukaan dari virus hepatitis B yang menghasilkan vaksin hepatitis B yang aman. Namun ada kekurangan dari inang ini yang menyebabkan ia kurang dipertimbangkan sebagai inang untuk produksi protein skala besar yaitu adanya hiperglikosilasi, residu α-1,3-terikat manosa yang menyebabkan respon antigenik terhadap pasien, serta tidak adanya promoter yang kuat.

Fungal Secondary Metabolites. Produk metabolit sekunder yang dihasilkan oleh jamur isalnya : Antibiotik,contohnya penicillin G alami, penicillin V, dan beberapa penicillin semisintetik dan cephalosporin. Immunosuppresive agents (immunosupresan), misalnya beberapa anti-jamur seperti cycloporin A digunakan sebagai immunosupresan yang sangat berperan penting dalam transplantasi organ seperti jantung, hati, dan ginjal. Hypocholesterolemic Agents (Anti-kolesterol), misalnya lovastatin, pravastatin dan lain-lain. Lovastatin telah disahkan sebagai antikolesterol, salah satu lovastatin yaitu monacolin-K yang dihasilkan oleh Monascus sp. Antitumor agents, seperti antitumor Taxol yang biasanya disintesis dengan inang tumbuhan namun ternyata dapat juga disintesis dengan inang jamur Taxomyces andreanae. Senyawa ini telah disahkan sebagai antikanker untuk kanker payudara dan kanker rahim. Beberapa metabolit sekunder yang lain yaitu mycotoxins, pigments,dan Polyunsaturated Fatty Acids.

Referensi :

Jose L. Adrio, A. L. (2003). Fungal Biotechnology. Int Microbiol Springer-Verlag , 191-199.

 
Leave a comment

Posted by on February 20, 2009 in pharmaceutical biotechnology

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: